Gila ! Orang Tua Tidak Dianggap Keluarga Lagi
MEDAN - Terkait kasus hilangnya sejumlah perempuan muda yang mengenakan jilbab di Medan, Sumatera Utara, orangtua salah seorang korban, Nurhidayah Sihombing (24) mengatakan anaknya mengalami pencucian otak selama hilang. Sehingga saat ditemukan, ia tak lagi dianggap sebagai keluarga oleh perempuan yang akrab disapa Nur itu.
"Kita sama sekali dianggap bukan keluarga lagi. Sikapnya benar-benar aneh dan berubah drastis sejak ditemukan," kata Bahtiar Sihombing, ayah Nur saat ditemui di rumahnya di Jalan Pelita IV, Gang Madrasah, Medan, Rabu (7/4/2010).
Bahtiar curiga anaknya telah dieksploitasi dan dimasuki doktrin tertentu oleh kelompok pengajian yang diikutinya. Nur sendiri menghilang setelah meminta izin untuk mengikuti kelompok pengajian bersama para gurunya di Langsa.
Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara itu hilang tepat pada 24 Desember 2008, sekitar dua tahun yang lalu.
Namun kemudian, setelah melakukan pencarian dibantu oleh Polsek Langsa Kota, akhirnya orangtuanya berhasil menemukan Nur di salah satu lokasi di kawasan Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), setelah hilang hampir 11 bulan. Selama mengikuti kelompok tersebut, Nur bekerja sebagai penjual kacang dan pengajar pada malam hari di lokasi persembunyian.
Namun, berselang satu bulan kemudian, perempuan yang sempat mengajar di SD dan SMP swasta di kawasan Medan Timur itu kembali kabur. Saat itu, Nur meminta izin untuk pergi ke warung di sekitar rumah.
Sulung dari enam bersaudara itu sendiri hanya memakai pakaian seadanya, membawa uang sekitar Rp50.000 dan tanpa membawa tas apa pun. Namun ternyata, ia tidak kembali lagi ke rumah untuk yang kedua kalinya.
Hingga saat ini, keberadaannya tidak diketahui lagi. Pihak Polda Sumut sendiri saat ini sedang melakukan penyelidikan dan pencarian terkait kasus hilangnya para perempuan yang juga dikenal sebagai aktivis mahasiswa tersebut. Polda Sumut telah membentuk dua tim khusus, serta bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Polda NAD.
Selain Nur, 10 perempuan muda lainnya juga dilaporkan hilang. Sebagian besar mereka merupakan alumni dan mahasiswi dari sejumlah universitas di Sumut. Sedangkan, salah satunya merupakan tamatan SMA di Medan. Mereka berasal dari berbagai daerah di Sumut, seperti Medan, Tanjungbalai, Indrapura, dan Tanjungpura.
Dugaan para perempuan muda berjilbab tersebut menjadi pengikut kelompok Al-Haq. Mnurut MUI, Al-Haq merupakan kelompok pengajian yang dinyatakan sebagai aliran sesat. Kelompok ini diperkirakan terorganisasi sangat baik sehingga sulit dideteksi keberadaannya.
Selain itu, mereka juga memiliki aturan yang ketat, yakni memaksa agar para anggotanya memutuskan hubungan silaturahmi dengan keluarga masing-masing.
Sumber : okezone.com
0 comments:
Posting Komentar