Takut Dipisah, Ibunya Pingsan
MALANG - SURYA- Santernya pemberitaan soal Sandi Adi Susanto, 4, balita yang gemar merokok asal Jl
Nusakambangan 19C, Kota Malang, membuat orangtuanya depresi. Sampai-sampai ibu Sandi
pingsan begitu melihat rumahnya dikunjungi banyak orang, termasuk Lembaga Perlindungan
Anak (LPA) Jatim dan Komnas Perlindungan Anak, Senin (5/4).
Suasana mendung siang itu tak menyurutkan Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto
Mulyadi dan rombongan datang di rumah balita perokok berat dan suka bicara kotor, Sandi Adi
Susanto. Namun, ketika itu Kak Seto, sapaan Seto Mulyadi, gagal menemui Sandi dan kedua
orangtuanya.
Siang itu Sandi telah pergi bersama teman barunya, Hartanto alias Sinyo, 25, sedang Mulud Riadi, 47, ayah Sandi, mengantarkan berobat istrinya, Mujiati, 41, ke Puskesmas. Memang, begitu mendengar kebiasaan Sandi merokok disebut masuk kategori kekerasan terhadap anak, dan orangtuanya dapat diancam hukuman penjara, Mujiati langsung shock dan sakit.
Mengetahui Sandi dan orangtuanya tidak di rumah, Kak Seto
meminta pemuda setempat, Amir Pesek, 20, untuk mengantarkan
ke rumah Sinyo di Jl Kalimantan. Tanpa mengenakan helm, Kak Seto dibonceng Amir menggunakan sepada motor menuju rumah Sinyo yang berjarak sekitar 300 meter.
Ternyata di rumah Sinyo yang juga digunakan tempat usaha pengiriman paket itu, Kak Seto kembali gagal menemukan Sandi. Informasinya, Sinyo juga sempat ketakutan dengan datangnya Komnas Perlindungan Anak, sehingga dia cepat-cepat mengajak Sandi keluar rumah.
Entah bagaimana caranya, yang jelas Kak Seto akhirnya
bisa membuat janji pertemuan dengan Sinyo bersama Sandi.
Mereka juga sepakat pertemuan dilakukan tertutup di suatu tempat.
Informasinya, mereka bertemu
di sebuah rumah makan
dekat rumah sakit di Jl Sulawesi. Hanya saja pertemuan tak digelar di ruang makan, tapi di sebuah
kamar di rumah makan itu. Pertemuan hanya berlangsung
sekitar 15 menit. Menurut Amir Pesek, pemuda yang mengantar
Kak Seto dengan sepada motor, awalnya Kak Seto langsung menyapa Sandi yang saat itu lagi
duduk santai bermain telepon seluler. Mengetahui ada orang
yang tak dikenalnya, putra bungsu pasangan Mulud Riadi
dan Mujiati ini balik menyapa.
“Sopo yo? (Siapa ya?),” kata Sandi menyambut Kak Seto, seperti dituturkan Amir Pesek.Dengan ramah, Kak Seto menjawab bahwa dia adalah teman dan berupaya mengajak Sandi bermain. ”Intinya, Kak Seto lebih banyak mengajak Sandi bermain,”kata Amir Pesek. Kak Seto yang siang itu mengenakan baju batik merah dipadu celana hitam, langsung memeluk dan menyalami Sandi. Ketika ditanya Kak Seto kalau sudah besar ingin jadi apa, Sandi menjawab ingin jadi tentara. Namun, ada kejadian lain. Sinyo yang ikut mendampingi Sandi dalam pertemuan itu menceritakan,
Sandi yang terbiasa bicara kasar, sempat misuh (mengumpat) ketika diajak bicara Kak Seto. “Opo awakmu iku j….k (Apa kamu itu j….k),” jawab Sandi, dituturkan Sinyo, seperti dikutip detiksurabaya.com. Mendengar jawaban Sandi,
Kak Seto hanya tersenyum. “Ayo bermain,” ajak Kak Seto. Sinyo yang mendampingi Sandi langsung mengingatkan
bocah itu untuk tidak bicara kotor. Dalam pertemuan itu Sandi mengajak Kak Seto adu panco. “Ayo kuat-kuatan,” tantang Sandi. Lelaki berkaca mata ini langsung mengiyakan. Kak Seto lalu adu panco dengan Sandi. “Aduh saya kalah, nyerahnyerah deh,” kata Kak Seto. Sandi pun kegirangan. “Ah, kalah karo aku (Ah, kalah dengan aku),” kata bocah kelahiran 18 Februari 2006 ini gembira.
Pingsan
Di tengah-tengah Kak Seto menemui Sandi di tempat lain, kedua orangtuanya pulang dari Puskesmas sekitar pukul 11.45WIB. Mulud Riadi jalan kaki lebih dulu sampai di rumah. Sedangkan istrinya, Mujiati, yang
baru saja berobat dari puskesmas tiba-tiba jatuh pingsan begitu sampai di mulut gang rumah. Mengetahui Mujiati ambruk, para wartawan langsung menggotongnya menuju rumah yang berjarak sekitar 20 meter.”Saya khawatir dipenjara dan Sandi dibawa keluar kota. Saya tak ingin dipisahkan dengan Sandi,” kata Mujiati setelah siuman.
Setelah diberi penjelasan oleh Sekretaris LPA Jatim, Priyono Adi Nugroho, dan LPA Malang, Tedjo Bawono, tentang kedatangannya bukan untuk memenjarakan dan memisahkan Sandi dengan orangtuanya, tetapi untuk merehabilitasi Sandi agar bisa kembali ke dunia anakanak,
Mujiati dan Mulud Riadi baru bisa plong. ”Kami sangat senang kalau Sandi disekolahkan. Apalagi, kami diberi bantuan biaya pendidikan,” jelas Mujiati. Mulud Riadi mengaku tak menyekolahkan Sandi hingga balita itu jadi perokok berat karena terbentur biaya. ”Namun, dia berteman dengan Sinyo, Sandi berubah. Kini dia jarang merokok. Kalau dulu sampai dua bungkus sehari, kini tak sampai satu bungkus,” kata Mulud
Kak Seto mengakui Sinyo merupakan kunci perubahan positif bagi Sandi. ”Bocah itu sangat menurut dengan teman barunya ini. Karena itu, saya berharap Sinyo dan masyarakat sekitar terus mendorong bocah ini ke arah positif, sehingga dapat kembali ke dunia anakanak,” pintanya.
Menurut Kak Seto, Komnas Perlindungan Anak tetap akan melakukan pendampingan terhadap Sandi dengan melibatkan sejumlah psikolog anak.
Namun, untuk pendampingan lebih intensif diserahkan ke LPA Jatim dan Malang. Kata Kak Seto, di Indonesia ada 12 bocah yang mempunyai kasus seperti Sandi.
Diungkapkan Kak Seto, sebenarnya Sandi sangat komunikatif, cerdas, dan punya kepercayaan
diri. Karena itu, Kak Seto yakin Sandi akan kembali ke dunia anak-anak, apabila masyarakat sekelilingnya tak mengajari halhal negatif.
Sumber :http://www.surya.co.id/2010/04/06/didatangi-kak-seto-balita-perokok-misuh.html
0 comments:
Posting Komentar