Setelah Jabulani Dan Vuvuzela, Rumput Juga Disalahkan
POLOKWANE–Bola Jabulani yang digunakan di Piala Dunia telah menuai beragam komentar, juga suara super bising yang keluar dari terompet tradisional vuvuzela. Kini giliran pemakain rumput sintetis yang dipadukan dengan rumput asli telah membuat pemain meradang.
Untuk kali pertama, perpaduan rumput sintetis dan rumput asli dipergunakan di perhelatan sepak bola terakbar sejagat. Stadion Peter Mokaba, Polokwane menggunakan campuran rumput lapangan tersebut. Stadion yang digunakan laga antara Slovenia dan Aljazair di Grup C, dinilai pemain tidak dapat menduga pantulan bola, khususnya penjaga gawang yang bakal salah mengatisipasi.
Akibatnya, Aljazair pun kalah 0-1 dari Slovenia. Kiper Faouzi Chaouchi salah antisipasi terhadap tendangan kapten Robert Koren, sehingga harus memungut bola dari gawang. Gol semata wayang yang menyesakkan. Selain luncuran bola yang tiada terduga, ditambah lagi dengan rumput campuran yang menambah sulit pantulan bola.
Bek Aljazair Majid Bougherra menegaskan, gol Slovenia tidak akan terjadi jika lapangan diselimuti rumput asli. “Pada pantulan terakhir, luncuran bola menjadi lebih cepat. Kemudian berubah arah di luar pemikiran penjaga gawang,” jelasnya.
Pemain juga menyatakan bola Jabulani tetap sulit dikontrol. “Bagi pemain, ketika menendang akan mendapatkan arah bola yang bagus. Tetapi itu akan sangat menyulitkan bagi penjaga gawang,” tambah Bougherra.
Keluhan terhadap Jabulani juga meluncur dari Pemain Terbaik Dunia sekaligus bintang Argentina Lionel Messi. “Bola itu sangat menyulitkan bagi kiper, serta kami sebagai pemain. Kami berharap segera terbiasa, karena tidak ada pilihan (bola) yang lain,” ungkap penyerang yang berjaya bersama Barcelona Spanyol itu.
Kesulitan kiper menduga arah bola juga dibenarkan Robert Koren, pemain yang menjadi man of the match duel Slovenia-Aljazair. Bahkan dia menunjuk kepada kesalahan kiper Inggris Robert Green, saat berbagi skor 1-1 dengan AS di duel Grup C. Green juga salah mengatisipasi bola, sehingga bola mental dan menjebol gawang.
“Sangat sulit bagi penjaga gawang, karena kesalahan sekecil apapun akan membuat gawangnya kebobolan,” jelas Koren.
“Kami melihat ketika AS mencetak gol melawan Inggris, dan kini kami mencetak gol seperti itu–dan itu sedikit bantuan bagi kemenangan kami,” jelas Kohen.
Laga di lapangan berumput campuran, baru berlangsung sekali di Polokwane. Masih ada tujuh pertandingan lagi di lapangan serupa, termasuk yang dilangsungkan di Nelspruit. Beberapa pertandingan itu diantaranya duel Prancis menghadapi Meksiko (17/6), dan Yunani bertemu Argentina.
Sumber : surya.co.id
0 comments:
Posting Komentar